Menelaah Kedekatan Pemimpin dan Pendukungnya

Jakarta

Hari pencoblosan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mungkin telah usai, namun suasana “panas” perpolitikan Indonesia belum mereda selama quick count bergulir. Di sisi lain, yang menarik menjadi sorotan adalah bagaimana para pendukung setia masing-masing calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) menunjukkan eksistensinya di tempat pemenangan.

Di antara mereka pun rela untuk datang dari berbagai wilayah di Indonesia ke Jakarta untuk menunjukkan dukungannya kepada capres-cawapres pilihan mereka. Mungkin beberapa orang menganggap bahwa perilaku para pendukungnya seperti ini tidak akan mempengaruhi seorang pemimpin. Padahal lewat berbagai esai dan penelitian di dunia, perilaku pendukung bisa mengembangkan karakter pemimpin itu sendiri dan ke mana arah perpolitikan berhembus.

Jenis Kedekatan Pendukungnya

Hubungan langgeng tidak akan tercipta jika tidak adanya rasa kepercayaan dan kedekatan setiap pemimpinnya. Namun tipe-tipe pengikut berbeda-beda, tergantung dari karakteristik pengikutnya. Pola perilaku pengikut dalam melakukan interaksi dengan pemimpinnya ini disebut followership style.

Menurut American Association of Colleges of Nursing, ada beragam gaya pengikut yang bisa dipersonifikasikan oleh seseorang, salah satunya adalah menurut studi Robert Kelley. Kelley menjelaskan ada lima gaya pengikut yang bervariasi antara menjadi pendukung yang pasif atau aktif, dan pemikir kritis yang independen atau pemikir tidak kritis tetapi ketergantungan. Berikut jenis-jenis pendukung yang bisa mempengaruhi hubungan dengan pemimpinnya.

1. Sheep

Salah satu stereotip pengikut yang tidak terlibat adalah pengikut yang pasif-sering disebut sebagai sheep atau domba. Pengikut tipe ini sangat bergantung pada pemimpin untuk memberitahu mereka apa yang perlu dilakukan, sehingga mereka cenderung tidak kritis dan hanya ikut apa yang diucapkan oleh pemimpinnya.

Jika melihat dari tipikal orang Indonesia, kebanyakan dari para pendukung adalah tipe semacam ini yakni lebih suka mengikuti informasi yang diberikan pemimpinnya tanpa memfilternya terlebih dulu. Jadi sebenarnya, pengikut macam ini tidak dapat membantu pemimpinnya untuk berkembang lebih baik.

2. Konformis

Konformis adalah tipe pengikut ini identik dengan istilah “yes man” alias selalu berkata ya tanpa membantah. Pengikut konformis lebih aktif dibandingkan pengikut pasif, tetapi mereka mengandalkan pemimpin untuk mendapatkan inspirasi dan tidak melakukan pemikiran kritis sendiri.

Ciri-ciri pengikut ini adalah kerap merasakan ide pemimpinnya sempurna, sehingga mereka secara sukarela melakukan ide tersebut. Walaupun ide yang dilakukan bertentangan dengan keyakinan diri mereka, asal itu datang dari sosok pemimpin yang mereka kagumi, maka apa yang dilakukan mereka tidak menjadi masalah.

3. Alienated atau terasing

Pengikut tipe ini kerap berpikir kritis secara mandiri, tetapi mereka tidak terlibat dan tidak aktif dalam menjalankan perannya. Mereka disebut alienated followers. Pengikut ini cenderung lebih terbuka mengemukakan pendapatnya, sehingga tak jarang mereka dianggap sinis atau skeptis pada sesuatu yang membuat mereka tidak puas dan kecewa dari pemimpinnya.

Sebenarnya mereka punya potensi untuk membantu pemimpin atau bahkan menjadi pemimpin itu sendiri, namun karena sifat mereka yang skeptikal, terkadang membuat mereka kehilangan antusiasme dan semangat demi perubahan.

4. Pragmatis

Kelompok pengikut ini berfluktuasi di antara empat jenis pengikut lainnya dan hidup dengan moto “lebih baik main aman daripada menyesal”. Orang-orang pragmatis bisa mempunyai kemampuan kepemimpinan yang kuat, Jika mereka memiliki kemauan, mereka bisa menjadi karakter baru menggantikan kepemimpinan yang ada bila value-nya sudah tidak sejalan.

5. Exemplary

Tipe yang paling aktif menurut Kelley adalah pengikut teladan. Seorang pengikut dengan tipe ini punya pemikiran sendiri, bertindak sesuai kebutuhan untuk menjalani tugasnya, sering mengidentifikasi masalah, dan menunjukkan masalah tersebut kepada pemimpinnya sebelum ada masalah. Mereka juga tidak takut salah dan bertanya kepada pemimpinnya.

Dalam perpolitikan, tipe teladan ini bisa ditemui di tim sukses pada calon kandidat atau tim penasihat. Mereka akan bertanggung jawab atas tindakannya dan membuat keputusan independen demi kebaikan kelompok. Tipe seperti ini menunjukkan kecerdasan, antusiasme, kemandirian, dan tujuan yang jelas. Inilah yang membuat para pemimpinnya memiliki citra baik di depan publik.

Intinya, dalam setiap organisasi, pemimpin maupun pengikut itu adalah hubungan yang nyata. Mereka, faktanya adalah dua unsur yang paling krusial dalam setiap struktur organisasi. Pemimpin yang baik akan menginspirasi masyarakatnya untuk melakukan yang belum pernah mereka lakukan. Pemimpin itu bisa menginspirasi, mendukung, membimbing, dan melatih pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama.

Tidak ada pemimpin tanpa adanya pendukung. Pendukung yang baik mengikuti instruksi pemimpinnya dalam situasi apa pun. Oleh karena itu, hubungan antara pemimpin-pengikut sangat penting dalam organisasi manapun termasuk dalam politik. Hubungan yang terjalin dengan baik ini, memungkinkan para pemimpin bisa memahami, merasa dekat, dan menciptakan rasa aman untuk para pendukungnya.

Nah kalau kamu, seperti apa hubunganmu dengan calon pemimpin di pemilu kali ini?

(DIR/alm) 

Updated: Februari 19, 2024 — 5:00 am

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *